Latar Belakang Masalah
“Matematika lagi, lagi lagi matematika!”, “Matematika bikin pusing, malees!”, ”Males belajar matematika, paling entar remedial!”, ”Udah belajar mati-matian kenapa belum ngerti-ngerti juga coba?!” Inilah sebagian besar pendapat yang dilontarkan para peserta didik ketika akan, sedang, dan setelah belajar matematika. Bukan tanpa alasan tentunya kenapa frekuensi kalimat-kalimat negative lebih sering diekspresikan. Kecondongan inilah yang harus diperhatikan, dipahami, diperbaiki dan ditata ulang oleh pendidik khususnya pada pembelajaran matematika. Apa masalahnya, Bagaimana penyelesaiannya dan matematika seperti apa yang di butuhkan peserta didik.
Batasan Masalah
Batasan-batasan masalah pada tulisan ini diantaranya
a. Bentuk-bentuk gejala jiwa dalam pendidikan
b. Diagnostik kesulitan belajar
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kesulitan belajar
A. Bentuk-bentuk Gejala Jiwa dalam Pendidikan
Gejala jiwa peserta didik terlihat dalam prilaku dan aktivitasnyanya. Beberapa bentuk gejala jiwa yang mendasar yang banyak muncul dalam bidang pendidikan diantaranya:
a. Penginderaan (Sensasi) dan Persepsi
Penginderaan merupakan suatu proses masuknya stimulus ke dalam alat indera manusia. Persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia.
b. Memori
Kemampuan untuk menerima, menyimpan dan memunculkan kembali informasi yang diterima disebut dengan memori.
Macam-macam memori
- Memori jangka pendek
- Memori Kerja
- Memori jangka panjang
c. Berpikir
Berpikir merupakan suatu proses mental untuk menyelesaikan suatu masalah yang melibatkan berbagai bentuk gejala jiwa seperti sensasi, persepsi maupun memori.
d. Intelegensi
Intelegensi sangat terkait dengan kemampuan menyesuaikan diri pada situasi yang dihadapi, belajar atau berfikir abstrak.
e. Emosi dan Motivasi
Emosi lebih sering dikaitkan kepada ekspresi perasaan seseorang yang member warna pada prilaku manusia. Sedangkan motivasi merupakan suatu dorongan untuk melakukan sesuatu bisa dari dalam diri atau dari luar diri.
B. Diagnostik Kesulitan Belajar
Didalam proses pembelajaran matematika tentu banyak pendidik-pendidik yang merasa kesulitan dalam menghadapi para peserta didik yang beaneka ragam, baik tingkah, prilaku, dan kemampuan masing-masing. Karena itu guru dituntut untuk bisa menganalisis kesulitan belajar siswa karena guru bukan hanya sekedar menyampaikan bahan ajar tetapi juga bertanggung jawab terhadap perkembangn peserta didiknya didalam pembelajaran matematika.
Berikut akan dikemukakan beberapa permasalahan belajar peserta didik menurut Warkitri dkk.(1990) :
a. Kekacauan Belajar ( Learning Disorder )
Yaitu suatu keadaan dimana proses belajar anak terganggu karena respon yang bertentangan sehingga anak tidak dapat menguasai bahan ajar dengan baik.
b. Ketidakmampuan belajar ( Learning Disability )
Pada permasalahan ini peserta didik selalu menghindari kegiatan belajar karena hasil belajar yang dicapai berada dibawa di bawah potensi intelektualnya.
c. Learning Dysfunctions
Ditandai dengan tidak berfungsinya proses belajar dengan baik, sehingga setekun apapun belajar tapi tidak mampu menguasai bahan ajar dengan baik.
d. Under achiever
Prestasi peserta didik tidak sesuai dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki.
e. Slow learner
Kesulitan belajar yang disebabkan oleh lambatnya proses belajar, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama.
Moh. Surya (1978) mengemukakan ciri-ciri peserta didik yang mengalami kesulitan belajar :
· Hasil belajar yang rendah
· Hasil tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan
· Lambat dalam mengerjakan tugas-tugas
· Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar
· Menunjukkan prilaku yang berlainan
· Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
Setelah mendiaknosa kesulitan belajar peserta didik marilah kita menyimak pandangan tentang faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (1994: 228-235) sebagai berikut. :
Faktor Internal
- SIkap terhadap belajar
- Motivasi belajar
- Konsentrasi belajar
- Keterbatasan Mengolah bahan ajar
- Menyimpan perolehan hasil belajar
- Menggali hasil belajar yang tersimpan
- Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil karya
- Rasa Percaya diri siswa
- Intelegensi dan keberhasilan belajar
- Kebiasaan belajar
- Cita-cita siswa
faktor eksternal
- Guru sebagai Pembina siswa belajar
- Prasarana dan sarana pembelajaran
- Kebijakan penilaian
- Lingkungan sekolah
- Kurikulum sekolah
-
D. Cara Mengatasi Kesulitan Belajar
Untuk membantu mengatasi kesulitan belajar, pendidik harus bekerja sama dengan orang-orang yang berpengaruh terhadap peserta didik seperti orangtua. Melalui pendekata pribadi guru akan langsung mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam, sehingga dapat memproleh hasil belajar yang optimal. Agar bimbingan belajar dapat lebih terarah dalam upaya membantu siswa dalam menagatasi kesulitan belajar, maka perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi Identifikasi adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, yaitu mencari informasi tentang siswa dengan melakukan kegiatan berikut:
- Data dokumen hasil belajar siswa
- Menganalisis absensi siswa di dalam kelas
- Mengadakan wawancara dengan siswa
- Menyebar angket untuk memperoleh data tentang permasalahan belajar
- Tes untuk memperoleh data tentang kesulitan belajar atau permasalahan yang dihadapi
Diagnosis Diagnosis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data tentang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan jenis kesulitan yang dialami siswa. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut:
- Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar siswa
- Keputusan mengenai factor-faktor yang menjadi sumber sebab-sebab kesulitan belajar
- Keputusan mengenai jenis mata pelajaran apa yang menjadi kesulitan belajar
Kegiatan diagnosis dapat dilakukan dengan cara ;
- Membandingkan nilai prestasi individu untuk setiap mata pelajaran dengan rata-rata nilai seluruh individu
- Membandingkan prestasi dengan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut
- Membandingkan nilai yang diperoleh dengan batas minimal tujuan yang diharapkan.
Prognosis Prognosis menunjuk pada aktifitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa. Prognosis ini dapat berupa:
- Bentuk treatmen yang harus diberikan
- Bahan atau materi yang diperlukan
- Metode yang akan digunakan
- Alat bantu belajar mengajar yang diperlukan
- Waktu kegiatan dilaksanakan
Terapi atau pemberian bantuan Terapi disini adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk terapi yang diberikan antara lain melalui:
- Bimbingan belajar kelompok
- Bimbingan belajar individual
- Pengajaran remedial
- Pemberian bimbingan pribadi
Tindak lanjut atau follow up Tindak lanjut atau follow up adalah usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya yang didasari hasil evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan dalam upaya pemberian bimbingan.
REFERENSI
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar